Menyambut Hari-hari Terakhir Theresa May di Pemerintahan Inggris - Jurnal Pasee Blog's

Menyambut Hari-hari Terakhir Theresa May di Pemerintahan Inggris

(Theresa Mary May MP adalah Perdana Menteri Britania Raya dan Ketua Partai Konservatif sejak Juli 2016)

Hari-hari Terakhir Theresa May di Pemerintahan Inggris


Theresa May kini tengah mengupayakan rancangan kesepakatan Brexit yang ke-empat, setelah semua upayanya sebelumnya gagal. Jika kesepakatan Brexitnya tidak lolos, tidak ada yang tahu pasti mengapa May masih bertahan. Partainya telah mendorong May untuk pergi dan mengingat bahwa Parlemen hampir tidak cocok untuk tujuan itu saat ini, sulit untuk melihat apa tepatnya yang berusaha untuk dipimpin oleh pemerintahannya.

Oleh: Luke McGee (CNN)

JurnalPasee - Perdana Menteri Inggris TheresaMay telah melakukan setiap upaya yang mampu dilakukan mengenai kesepakatan Brexit sebanyak tiga kali hingga saat ini. May terbukti tidak berhasil pada setiap kesempatan itu, tetapi untuk sejumlah alasan, Perdana Menteri kini tengah mengupayakan referendum keempat.

Telah dikonfirmasi hari Selasa, bahwa May akan membawa RUU Penarikan Perjanjian ke hadapan House of Commons pada pekan pertama bulan Juni 2019, dalam upaya terakhir untuk mengajukan kesepakatan Brexit dengan pemerintahan Uni Eropa ke dalam hukum, sehingga memperkuat warisannya sebagai PM yang akhirnya mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa.

Cukup banyak hal yang akan terjadi hingga momen itu tiba. Pertama, Inggris harus mengikuti pemilihan Parlemen Eropa minggu depan. Mengingat bahwa May bertanggung jawab atas Brexit yang belum terjadi, Partai Konservatifnya yang berkuasa secara luas diperkirakan akan menerima kekalahan. Partai Brexit Nigel Farage, dengan kebijakan utamanya yang dapat dengan mudah ditebak, saat ini diperkirakan akan menang di Inggris, sementara partai-partai lain yang lebih kecil juga diduga akan menunjukkan kinerja cukup baik.

Partai Buruh dari oposisi tampaknya juga akan kehilangan pemilih, mulai dari pemilih pro-Brexit maupun anti-Brexit.

Kedua, tanggal 6 Juni 2019 akan ada pemilihan penting di daerah pemilihan Peterborough. Meskipun mungkin pemilihan Brexit akan terjadi sebelum pemungutan suara, yang dikenal di Inggris sebagai pemilihan sela (by-election), kedua partai utama harus menerima jajak pendapat harian yang memprediksi kandidat parlemen pertama dari Partai Brexit. Ini bisa menjadi prediksi yang tidak menyenangkan, mengingat bahwa partai tersebut akan berkampanye dengan penuh semangat karena kemungkinan keberhasilannya dalam pemilihan Eropa.

Logika May mungkin bahwa pada awal Juni 2019, anggota parlemen dari Partai Konservatif maupun Buruh akan merasa khawatir untuk menyingkirkan kemungkinan Brexit dari pembicaraan.

Itu bukan rencana terburuk di dunia, atau tidak akan menjadi rencana terburuk di dunia jika itu tidak tampak begitu putus asa.

Masalahnya, sejak kesepakatan May ditolak untuk ketiga kalinya tanggal 29 Maret 2019, yang kebetulan merupakan hari di mana Inggris seharusnya meninggalkan Uni Eropa, oposisi yang menentang kesepakatannya telah menjadi kian kuat. Tidak hanya dari pendukung Brexit yang menganggap kesepakatannya terlalu lunak, tetapi juga dari anti-Brexit yang telah mencium aroma kekalahan pendukung Brexit sejak batas waktu Brexit pertama terlewatkan.

Untuk memenangkan itu, May memerlukan semacam keajaiban politik kecil. Inggris telah melihat dari waktu ke waktu bahwa parlemen tidak hanya tidak memiliki mayoritas untuk kesepakatannya, tetapi juga tidak ada mayoritas untuk rencana Brexit lainnya. Sementara itu, para pendukung Brexit tanpa kesepakatan dan mereka yang ingin Brexit dihapuskan sama-sama mengira mereka memenangkan pembicaraan, meskipun kedua pihak menghadapi pertentangan besar di Parlemen.

Jadi mengapa May melakukan ini sekarang ?
Dia mungkin tengah mengonfirmasi kecurigaan banyak orang di Parlemen bahwa Juni 2019 bisa menjadi bulan terakhirnya sebagai Perdana Menteri. Dia sudah mengatakan bahwa jika kesepakatannya disahkan, dia akan menyingkir pada waktu yang tepat dan membiarkan penggantinya berurusan dengan tahap kedua Brexit.


Jika kesepakatan Brexitnya tidak lolos, tidak ada yang tahu pasti mengapa May masih bertahan. Partainya telah mendorong May untuk pergi dan mengingat bahwa Parlemen hampir tidak cocok untuk tujuan itu saat ini, sulit untuk melihat apa tepatnya yang berusaha untuk dipimpin oleh pemerintahannya.

Apa arti dari semua ini ?
Kita saat ini mungkin tengah melihat hari-hari terakhir May di puncak kepemimpinan Inggris. Dengan atau tanpa kesepakatan, May mungkin harus pergi, bahkan mungkin lebih cepat.

Apa pun yang akan terjadi, May pasti akan meninggalkan kekacauan politik yang tidak jelas bagaimana penyelesaiannya. Saat ini, siapapun yang terlibat dalam politik Inggris tidak memiliki kepercayaan tulus bahwa Inggris akan tiba pada babak akhir Brexit tanpa pemilihan umum lagi.

May kini mungkin tengah menanti dengan tidak sabar untuk menyingkir dari semua kekacauan itu.

Jangan lupa bagikan artikel ini ya!

Berikan pendapatmu tentang artikel ini

loading...
Notification
Ini adalah popup notifikasi.
Done