Turunnya Takhta Raja Donald Trump - Jurnal Pasee Blog's

Turunnya Takhta Raja Donald Trump


Turunnya Takhta Raja Donald Trump


Raja Trump’ turun takhta. Penurunan takhta ini dapat diartikan sebagai keadaan ketika seseorang dalam posisi otoritas memilih untuk meninggalkan atau mengabaikan tugasnya, dan itulah yang terjadi. Donald Trump telah mengumumkan bahwa ia telah turun takhta, tidak lagi memiliki keinginan untuk melayani selama Kongres memiliki keberanian untuk menginterogasinya. Dan sekarang kita memiliki yang terburuk dari segala kemungkinan: penurunan takhta yang menyebabkan sekitar 327 juta orang Amerika berada dalam ketidakpastian.

Oleh: Ted Gup (CNN)

JurnalPasee - Dalam beberapa minggu terakhir, hampir semua pembicaraan di Washington berpusat pada pemakzulan. Apakah mereka akan melakukannya atau tidak? Sekarang negara ini menghadapi kekhawatiran baru penurunan takhta.

Itu benar, Presiden yang menganggap dirinya seorang raja (dan mengharapkan orang lain untuk memperlakukannya dengan cara yang sama), telah menyatakan bahwa ia tidak akan melakukan apa pun dengan Kongres mengenai undang-undang infrastruktur mungkin satu bidang di mana ia bisa mendapatkan dukungan bipartisan selama Demokrat bersikeras meminta pertanggungjawabannya. Akibatnya, Donald Trump telah mengumumkan bahwa ia telah turun takhta, tidak lagi memiliki keinginan untuk melayani.

Dengan tepat, kata “turun takhta” memiliki dua arti. Yang pertama berlaku ketika seorang raja melepaskan takhtanya (dalam kasus Trump, tidak mungkin); yang kedua, ketika siapa pun dalam posisi otoritas memilih untuk meninggalkan atau mengabaikan tugasnya. Yang terakhir ini adalah apa yang Presiden Trump katakan akan dia lakukan selama ada yang berani menginterogasinya. Dia telah mengumumkan, pada dasarnya, bahwa Amerika sekarang memiliki pemerintahan in absentia.

Untuk memahami apa yang terjadi minggu lalu, sebaiknya kita lihat melalui lensa abad pertengahan, yang merupakan wilayah di mana Presiden/Raja Trump berada. Apa yang Ketua DPR Nancy Pelosi lakukan dengan menuduhnya melakukan upaya menutup-nutupi, sama dengan apa yang oleh para raja sebut sebagai “Lese Majeste“ .Sebuah penghinaan terhadap penguasa.
(Bagi Trump, tidak ada masalah konstitusionalitas yang nyata. Satu-satunya pemisahan kekuasaan yang tampaknya ia akui adalah pemisahan kekuasaan yang ia bagikan di antara para penasihatnya, Jared Kushner dan Ivanka Trump, dan putranya, Don Jr.)

Ancamannya untuk tidak berurusan dengan Kongres selama Kongres memiliki keberanian untuk menginterogasinya, menciptakan skenario yang ideal baginya: ia dapat mempertahankan takhta tanpa harus memerintah, yang kemungkinan besar adalah apa yang ia inginkan sejak awal. Untuk semua cemoohan dan kemarahannya, dia mungkin mengalami sedikit kelegaan dan bahkan rasa terima kasih bahwa berat mahkota setidaknya sudah terangkat untuk sementara waktu.

Lagipula, dia tidak pernah memiliki ketertarikan untuk benar-benar menjalankan berbagai hal, dan ketika dia melakukannya, dia sering mengalami kegagalan (misalnya kebangkrutan, dan sekarang misalnya bencana kebijakan imigrasi Amerika Serikat).

Dia adalah CEO yang tidak suka mengelola, sang pembuat kesepakatan yang ‘luar biasa’ yang pergi dari meja perundingan dengan tangan kosong, setelah menyinggung sekutu seumur hidupnya demi menyenangkan musuhnya; dia adalah investor penyihir yang dikatakan telah kehilangan lebih banyak uang selama satu dekade daripada orang Amerika lainnya.

Dia senang mencetak poin, tidak lebih. Sudah sepantasnya ia menjadi pembawa acara program TV “The Apprentice“, sebuah acara tentang para penjilat yang berlomba-lomba merebut hati Trump. Trump sendiri adalah murid magang (apprentice) seumur hidup, mula-mula dengan putus asa bersaing untuk dapat diterima oleh ayahnya yang sangat disiplin, dan kemudian, diterima oleh negaranya. Lihatlah hidupnya, ia sukses dalam hal menjilat dan merayu; tapi dalam hal kesetiaan, tidak begitu.

Dalam banyak hal, pelantikannya adalah titik tertinggi kepresidenannya. Yang terjadi selanjutnya adalah timbulnya kesadaran bahwa masyarakat mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Dia selalu berada di jalur kampanye dalam mengejar validasi, dan kemenangan lainnya.

Trump seorang ‘pembuat kesepakatan yang sempurna’, selalu dapat meninggalkan meja, bukan karena dia adalah negosiator yang cerdik dan tangguh, tetapi karena dia tampaknya tidak peduli apa hasilnya atau apa bentuk akhir dari kesepakatan itu. Dia tidak memiliki investasi sejati dalam kesepakatan (kesejahteraan negara dan rakyatnya), hanya dalam egonya—sudah cukup jika dia tampaknya telah menang.

Bakatnya yang luar biasa merentang dari gertakan hingga amukan, yang berfungsi dalam kekayaannya yang diwariskan dan acara TV realitas, tetapi tidak berfungsi bagi perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tata kelola langsung yang nyata. Dan bukankah ini merupakan ekspresi tertinggi dari hak istimewa eksekutif: hak untuk tidak berperilaku sebagai eksekutif sama sekali? Ia tertarik pada hak prerogatif kekuasaan, dan bukan manfaat dari kekuasaan itu bagi orang lain.

Dan Trump telah melepaskan semua kepura-puraan dan menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Makan malam kenegaraan, iring-iringan mobil, menjadi kaki tangan Fox & Friends, dan memperjuangkan egonya tanpa akhir, adalah semua yang dia inginkan. Bahkan di jalur kampanye, tidak ada yang lebih jauh dari benaknya selain menemukan solusi untuk masalah bangsa.

Ia telah menjadi contoh nyata pepatah lama, “berhati-hatilah dengan apa yang Anda inginkan.” Ia membuat kita bertanya-tanya, apakah pernah terlintas dalam benaknya bahwa tanggung jawab tertentu mungkin datang bersama jabatan tertentu.

Dan sekarang kita memiliki yang terburuk dari segala kemungkinan: penurunan takhta yang menyebabkan sekitar 327 juta orang Amerika berada dalam ketidakpastian.

Masalahnya adalah bahwa Trump dengan caranya sendiri yang tak dapat ditiru telah menciptakan kekosongan yang paling tidak sempurna bagi negara. Untuk masa yang akan datang, kepresidenan akan kosong, di mana negara harus menunggu sambil menyaksikan kemarahan dan rentetan tweet dan kata-kata kasarnya.

Sementara itu, jembatan dibiarkan retak, jalan raya tidak rata, rel naik-turun, narkoba berkembang biak, obat-obatan semakin mahal; diplomat menggaruk-garuk kepala, para sekutu bertanya-tanya apakah mereka mendapatkan dukungan atau haruskah mereka waspada, musuh semakin bersemangat, dan perubahan iklim semuanya di bawah manajemen Trump di mana semua itu, sama seperti masyarakat AS, harus terus berjuang.

Sekarang, terbebas dari gangguan seperti undang-undang, anggaran, dan infrastruktur, Trump seperti anak kecil dengan perangkat LEGO raksasa dapat berkonsentrasi untuk mencoba membangun tembok itu ke selatan dan tak perlu berpura-pura peduli pada bangsa atau masalah negara.
Alih-alih mengecam Ketua Pelosi, dia seharusnya menulis surat ucapan terima kasih karena telah memberinya alasan betapapun tidak masuk akalnya yang memungkinkannya melepaskan tugas-tugas kepresidenan. Yang paling menyedihkan dari semua pernyataannya sejak menjabat adalah ini: “Saya menyukai kehidupan saya sebelumnya.”

Ted Gup adalah seorang penulis di Durham University di Inggris. Dia telah menjadi kontributor Washington Post, New York Times, NPR, Slate, The Guardian, National Geographic, dan media lainnya.

Salam JurnalPasee

Jangan lupa bagikan artikel ini ya!

Berikan pendapatmu tentang artikel ini

loading...
Notification
Ini adalah popup notifikasi.
Done